|
|
|
 |
 |
| e131 | : | X-TREME Sport Edition |
| e130 | : | Toys & Figure Edition |
| e129 | : | Modification Edition |
| e126 | : | Football Die-Hard Edition |
| e124 | : | Private & Confidential Edition |
| e122 | : | Jajanan Kaki Lima Edition |
| e121 | : | Aplaus Goes To Campus Edition |
| e119 | : | Indie Music Edition |
| e118 | : | Boys vs Girls Edition |
| e117 | : | I Love Sunday Edition |
| e114 | : | Leisure Time Edition |
| e113 | : | Street Culture Edition |
| e112 | : | Single Fighter Edition |
| e109 | : | Japanese Culture Edition |
| e105 | : | Special Anniversary Edition |
| e104 | : | Friendship Edition |
| e102 | : | Local Talent Edition |
| e97 | : | Self Improvement Edition |
| e94 | : | illustration Edition |
| e93 | : | Flower Power Edition |
| e90 | : | Living Room Edition |
| e86 | : | Food Trivia Edition |
| e85 | : | Urban Drive Edition |
| e83 | : | Rock ‘N’ Roll Edition |
| e80 | : | Online Games Edition |
| e78 | : | Sportainment Edition |
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
 |
Home
> Edisi 119
> Fokus
> Setapak
> Ujung Genteng: Never Ending Adventure on The Beach
Ujung Genteng: Never Ending Adventure on The Beach
Teks & Foto oleh Yudasmoro
Keindahan alam Jawa Barat memang selalu mengejutkan. Ujung Genteng, salah satu daerah andalan wisata di selatan Jawa Barat menawarkan sensasi tersendiri. Apalagi jika dinikmati dengan petualangan yang mendebarkan.

MENJELAJAHI Ujung Genteng tidaklah semudah menjelajah pantai biasa. Terdapat beberapa pantai yang terhampar di sepanjang daerah Ujung Genteng, seperti Pantai Cipanarikan, Pantai Karang Taraje, Pantai Ombak Tujuh dan Pantai Batu Keris. Setiap pantai memiliki karakter yang berbeda-beda.
Perjalanan dimulai dari Pantai Ujung Genteng, di sini banyak terdapat penginapan berupa losmen dan vila. Warung di daerah ini adalah harapan satu-satunya bagi yang ingin bertualang karena di sepanjang pantai selanjutnya, tak ada lagi warung atau desa, yang ada cuma hutan dan bukit. Perjalanan kami akan menyusuri pantai yang ada di daerah Ujung Gentang dan mendirikan tenda di Pantai Batu Keris yang jaraknya sekitar 30 km dari Pantai Ujung Genteng. Keesokannya kami pulang dengan rute berbeda yaitu melalui hutan di belakang pantai yang jaraknya lebih pendek, sekitar 17 kilometer.
Meski hujan mengguyur deras, perjalanan tetap dimulai. Dengan menggunakan rain coat, kami merambah pantai. Pasir pantai yang terkena siraman hujan menjadi padat dan keras. Ini menguntungkan kami tentunya, karena kami tak perlu tenaga ekstra untuk melangkah di pasir halus yang bisa membenamkan langkah kaki. Apalagi saya dan teman-teman membawa ransel seberat 12–15 kg saat itu.
Beratnya medan mulai terasa saat kami melewati Pantai Cipanarikan. Cuaca mendadak panas, pasir pantai mulai mengering dan berubah menjadi pasir lembut yang membuat kaki ini tenggelam. Ah...! Benar-benar berat rasanya langkah ini. Untungnya pemandangan di pantai ini cukup indah dengan laut kebiruan yang bikin hati tenang dan pasir putih yang luas. Kami istirahat sebentar di sini.
Challenging Pantai Karang Taraje
Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan di dekat air laut. Di sini justru tanahnya lebih keras. Jadi memudahkan kami dalam melangkah. Cukup lama kami berjalan dengan sengatan matahari pantai selatan sebelum akhirnya kami sampai pada bukit-bukit batu karang dengan hutan di belakangnya. Batu karang ini susunannya cukup tinggi dengan belahan-belahan yang runcing di sekitarnya. Mirip Skull Island dalam film King Kong. Inilah Pantai Karang Taraje.
Tidak ada jalan lain selain berjalan menyisir batu karang ini di sisi deburan ombak yang cukup keras. Saya sempat ragu menjalani rute ini mengingat karang-karang ini sangat licin. Sekali tergelincir, celakalah saya! Karang Taraje dalam bahasa setempat adalah karang tangga. Mungkin karena susunan karang di sini yang bertingkat-tingkat mirip tangga.
Sepanjang Pantai Karang Taraje, yang saya lihat hanya hamparan batu-batu karang dan tak ada satu pun pasir pantai. Pantai ini memang bukan buat berenang. Rute ini diakhiri dengan batu karang yang lebih besar dari yang pertama. Di sini, saya harus menyeberang melewati celah batu karang hanya dengan dua bilah bambu. Dengan dibantu beberapa kawan yang berpengalaman mendaki gunung, saya pun merayap di sisi batu karang. Deburan ombak di belakang saya serta tingginya tebing yang sekitar empat meter membuat saya merinding ketika merayap.
Di sini, saya harus bersabar karena kami harus melalui rute sulit ini satu persatu. Di balik dinding karang ini, saya dapat bernapas lega karena terdapat dataran karang yang cukup luas dan rata. Dari sini, saya bisa melihat garis pantai Karang Taraje. Meski terlihat tak bersahabat, Karang Taraje mempunyai pesona, kecantikan sekaligus kegarangan dengan batu-batu karangnya yang tajam menonjol di antara deburan ombak.
Getting harder
Perjalanan menjadi semakin berat karena ternyata kami tak bisa memenuhi target waktu yang telah ditetapkan. Hari yang semakin sore dan jarak yang masih jauh membuat saya yang sudah kelelahan menjadi semakin lelah. Untungnya saya tak harus melalui rute memanjat karang lagi. Namun rute landai dengan pasir lembut sambil dijemur sinar matahari juga merupakan tantangan bagi saya. Kelelahan dan dehidrasi mulai melanda saya dan teman-teman.
Dengan perjuangan yang lumayan keras, akhirnya kami memasuki areal Pantai Ombak Tujuh. Areal pantai dan bagian pasirnya cukup luas. Garis pantai Ombak Tujuh juga lumayan panjang, hampir sekitar empat kilometer. Tak ada batu-batu karang tajam di sini, yang ada hanyalah garis horizon di kejauhan dan deburan ombak yang bergulung-gulung terpecah di bibir pantai.
Perjalanan menyisir pantai benar-benar terasa tak ada habisnya. Rasanya seperti berjalan di daerah gurun pasir yang tak berujung. Terbayang di benak saya perjalanan Brooke Shield dalam film Sahara, panas dan tak ada habisnya. Porter yang membantu kami membawa makanan terus menghibur dengan berkata, “Sudah dekat, Pak! Satu belokan lagi.” Seingat saya, kata-kata itu pula yang dia katakan hampir dua jam sebelumnya.
Seringkali kami menemui aliran muara yang harus kami seberangi. Dalamnya tak menentu, terkadang sebatas paha atau bisa sebatas perut. Yang jelas untuk melalui muara-muara ini, saya harus memanggul ransel saya di bahu dengan satu tangan.
Lekukan demi lekukan pantai saya lewati tanpa ada tanda-tanda yang jelas bahwa kami akan tiba di Pantai Batu Keris dalam waktu dekat. Kami sudah berjalan hampir delapan jam namun tak ada tanda-tanda akan berakhir. Mendekati Pantai Batu Keris, perjalanan kami teruskan dengan berbelok ke kanan memasuki hutan di belakang pantai. Hutan di sini cukup lebat dan jarang tersentuh.
Jalan mulai menanjak menaiki bukit-bukit kecil dan kemudian turun lagi. Beberapa kali kami tiba di sebuah sungai yang ukurannya kecil, dan kemudian masuk lagi ke dalam hutan. Setelah beberapa kali naik turun bukit, akhirnya kami tiba di sebuah pantai yang cukup luas. Saya mengira inilah tempat kami membuat basecamp. Namun ternyata Pantai Batu Keris masih jauh di ujung mata saya. Di kejauhan terlihat beberapa teman saya yang sudah berjalan duluan. Ternyata masih jauh juga! |
|
|
|
 |
|
 |
|
|
 |
|
 |
|
|