HOME
CONTACT US FAQS
LOG IN    SIGN UP NOW
Username :
Password :
| Forget Password
  
e131 : X-TREME Sport Edition
e130 : Toys & Figure Edition
e129 : Modification Edition
e128 : E-Junkies Edition
e127 : Nite Life Edition
e126 : Football Die-Hard Edition
e125 : Holiday Edition
e124 : Private & Confidential Edition
e123 : Earth Edition
e122 : Jajanan Kaki Lima Edition

Website ini masih dalam tahap pengembangan.

Edisi 117
Home  > Edisi 117  > Intermeso  > Showbiz  > 4 minutes and 18 Seconds Interview With Mr. RI 45 (Andi Mallarangeng)
4 minutes and 18 Seconds Interview With Mr. RI 45 (Andi Mallarangeng)
Teks oleh Carolyn Kandou | Foto istimewa

Seru juga nyuri waktu Menteri yang jadwalnya ngalah-ngalahin aktor/aktris-sinetron-kejar-tayang. This is it!

KARIER mantan Juru Bicara Presiden RI periode lalu yang sekarang menggunakan mobil dengan plat RI 45 ini meroket berkat kelihaiannya dalam dunia politik. Siapa sangka, Menteri Pemuda dan Olahraga RI yang digilai Madam Dorce Gamalama ini dulunya pengen banget jadi petenis profesional. Without any ‘ba-bi-bu’, dari lantai dua Padepokan Yayasan Wushu Kusuma Indonesia—dengan jatah awal tiga menit—inilah interview yang deg-deg-annya seperti nonton film Gone in Sixty Seconds, dengan pria asal Makassar bernama Andi Mallarangeng.

Konon, katanya pejabat negara jam tidurnya ribet ya, Pak?
Kalau saya, memang jam kerjanya panjang. Kadang sampai malam, bahkan lewat tengah malam. Tapi ya, kalau saya kena bantal—langsung tewas lho! Ha-ha-ha…

Ada sebuah pemberitaan yang melansir bahwa ada 16 buah account Facebook dengan nama Andi Mallarangeng, bahkan sebuah account bernama Andi Malaria yang ngaku-ngaku adik kandung Bapak...
Ha-ha-ha… Iya! Sekarang jumlahnya 19 buah malah. Account yang menggunakan nama saya dan mengaku-ngaku adalah saya. Dan, semuanya palsu!

Ha-ha-ha, jadi ceritanya Bapak nggak punya account Facebook nih?
Nggak, sama sekali saya nggak memiliki account Facebook. Tetapi, ada banyak orang yang menggunakan nama saya untuk Facebook, menggunakan foto-foto dan seakan-akan saya. Sejauh ini sih yang saya lihat iseng-iseng, lucu-lucuan, dan main-main. Bagi saya, begini, dunia maya adalah ekstensi dari dunia nyata. Karena itu, nilai-nilai yang berlaku pada dunia nyata mestinya juga berlaku pada dunia maya. Kalau (di dunia nyata), orang yang mengaku-ngaku sebagai orang lain adalah sebuah hal yang tidak baik, begitu pun di dunia maya. Jadi nilai pada dunia nyata pun harus berlaku pada dunia maya. Jangan menganggap dunia maya adalah sebuah dunia yang bisa dipermainkan. Itulah mengapa, saya terus menghimbau untuk berhentilah menggunakan dan bermain-main di dunia maya dengan nama saya.

Kemarin film 2012 dan isu kiamat 2012 lagi hot banget dibicarakan orang. Film tersebut pun sampai dicekal, penuh pro dan kontra. By the way, Bapak udah nonton 2012 belum?
Saya belum nonton, tapi sudah baca resensi filmnya. Banyak memang, reaksi-reaksi yang bermunculan. Namanya juga sebuah produk kreatif dan fiksi—sah-sah saja. Isu kiamat juga bukan baru kali ini muncul, ada yang bilang tahun lalulah, kapanlah. Apabila yang kita tonton di film tersebut adalah sebuah karya fiksi yang mencekam, barangkali bisa kita jadikan pesan moral untuk lebih menjaga dunia ini. Jangan kita hancurkan lingkungan, menjaga hutan dan menanam pohon misalnya. Jangan sampai dunia ini rusak di tangan kita sendiri. Prinsip saya begini, kalau kita melakukan yang terbaik dengan diri sendiri dan alam, maka sesuatu yang baik akan datang juga.

Terakhir, konon katanya dulu Bapak pengen banget jadi seorang petenis profesional ya? Ceritain dong, kita-kita ‘kan pengen tau!
Hmm..., iya. Dulu saya pengen banget jadi seorang petenis profesional, tapi nggak kesampean. Sejak kecil, setiap tahunnya saya selalu mengikuti kejuaraan nasional untuk tenis, tapi ketika saya duduk di bangku SMA saya berpikir kayaknya nggak bakal mungkin deh jadi petenis. Alhamdulillah, Tuhan memberikan saya jalan untuk kembali mengurus soal olahraga dengan menjadi Menpora.

Satu lagi, Pak!
Loh, katanya yang terakhir? Apa itu?

Kalau waktu bisa diputar ke belakang, Bapak pengen jadi petenis profesional atau menjadi pejabat negara seperti sekarang, hayo?
Aduh, ha-ha-ha... Kalau waktu kecil sih pengen-nya jadi petenis profesional, tapi kalau melihat yang sekarang kayaknya jadi Menteri Pemuda dan Olahraga aja deh. ‘Kan bisa main tenis setiap hari. Ha-ha-ha…