|
|
|
 |
 |
| e131 | : | X-TREME Sport Edition |
| e130 | : | Toys & Figure Edition |
| e129 | : | Modification Edition |
| e126 | : | Football Die-Hard Edition |
| e124 | : | Private & Confidential Edition |
| e122 | : | Jajanan Kaki Lima Edition |
| e121 | : | Aplaus Goes To Campus Edition |
| e119 | : | Indie Music Edition |
| e118 | : | Boys vs Girls Edition |
| e117 | : | I Love Sunday Edition |
| e114 | : | Leisure Time Edition |
| e113 | : | Street Culture Edition |
| e112 | : | Single Fighter Edition |
| e109 | : | Japanese Culture Edition |
| e105 | : | Special Anniversary Edition |
| e104 | : | Friendship Edition |
| e102 | : | Local Talent Edition |
| e97 | : | Self Improvement Edition |
| e94 | : | illustration Edition |
| e93 | : | Flower Power Edition |
| e90 | : | Living Room Edition |
| e86 | : | Food Trivia Edition |
| e85 | : | Urban Drive Edition |
| e83 | : | Rock ‘N’ Roll Edition |
| e80 | : | Online Games Edition |
| e78 | : | Sportainment Edition |
|
|
 |
|
 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
 |
Home
> Edisi 117
> Fokus
> Urban
> We Do Love ‘ALAM’!
SendalJepit Community & GMPA-ITM:
We Do Love ‘ALAM’!
Teks oleh Carolyn Kandou | Foto oleh Rahadian Roebidin & Istimewa
Bukan Alam sang penyanyi dangdut—kakaknya Vety Vera. Bukan juga Mbah Dukun yang sedang ngobatin pasien, seperti lirik lagunya. Ini cinta, tapi bukan cinta biasa!

KALAU kamu pikir sedang membaca rubrik Romansa, oh nggak kok, kamu masih ada di trayek yang berbeda: rubrik Urban. Gerilya kru Aplaus kali ini singgah sebentar di sekumpulan anak muda yang pada praktiknya mencintai alam, ekosistem, dan kelestariannya—tapi konon katanya, pantang mendeklarasikan diri mereka sebagai pencinta alam. Jadi, bagi kamu yang berencana masuk gerakan atau komunitas pencinta alam, sebaiknya tahan diri kamu untuk menyebut diri, ”Saya pencinta alam!”
Begitu pun, cinta mereka sungguh unik. Kalau kamu ikut-ikutan sakit melihat orang yang kamu sayangi disakiti orang lain, begitu juga adanya antara mereka dengan alam. Miris kalau teriiris. Menerima alam apa adanya, lalu merawatnya. Wow, what a wonderful love!
Sendaljepit Community
Berangkat dari kesederhanaan, mereka membuat sebuah komunitas bernama Sendaljepit. Walau mereka pantas disebut sebagai pencinta alam, tapi karena merasa berat disebutkan demikian, mereka pun merasa pantang diberi label demikian. Namun, hebatnya, mereka sudah memiliki lebih dari 50 orang anggota yang tersebar dari Medan hingga ke Pematang Siantar dan Kalimantan.
Satu tongkrongan dan memiliki kesamaan hobi dan rasa cinta terhadap alam menjadi alasan yang menyatukan mereka untuk membentuk komunitas ini. Sendaljepit merasa bahwa alam lebih menjanjikan ketenangan ketimbang daerah perkotaan yang sumpek dan penuh dengan berbagai jenis polusi. Kebetulan pula, beberapa anggota Sendaljepit ini berprofesi sebagai ranger di kaki Gunung Sinabung, ”Mereka tinggal di kaki Gunung Sinabung sampai empat tahunan. Di kaki gunung, mereka tidak hanya mengawasi dan mengantisipasi kecelakaan saat pendakian, tetapi mereka juga ikut berladang dan membantu para petani,” ucap Dodi Sendaljepit.
Komunitas yang namanya naik beberapa waktu yang silam karena publikasi Air Terjun Dua Warna ini, kemarin baru saja mendapatkan kabar duka. Spot wisata yang mereka populerkan ini bertambah penghuninya, yakni para sampah. “Awalnya publikasi Air Terjun Dua Warna ini karena teman-teman sering ke sana. Mereka sudah tau bagaimana indahnya tempat tersebut, lalu kita telusuri ke sana. Dan kami melakukan pemberitaannya di sebuah media. Akibat pemberitaan tersebut, belakangan ini jadi sering dikunjungi dan banyak sampah. Pemerintah juga nggak ada yang peduli. Akhirnya kita jadi merasa bersalah sendiri karena pemberitaan ini,” cerita para kru Sendaljepit dengan kompak.
Kesedihan mereka bukanlah hal yang dibuat-buat. Saat ditanya bagaimana kecintaan mereka terhadap alam, spontan wajah Sendaljepit berubah serius, ”Ini masalah hati. Ibarat pacaran, kami dan alam sifatnya saling melengkapi. Di alam, kami bisa mendapatkan ketenangan. Kalau orang-orang kebanyakan memilih mengisi weekend dengan nongkrong di kota, kami lebih memilih untuk mengunjungi alam. Minimal sebulan sekali. Kalau ditanya mana lebih sakit dari diselingkuhi pacar, kayaknya lebih sakit kalau alam rusak deh. Soalnya kami yang sering menyelingkuhi pacar. Ha-ha-ha…”
Sendaljepit juga memberi pandangan tersendiri tentang sejumlah orang yang hanya dengan gaya rebel dan suka travelling lantas dengan gampang menamakan diri mereka sebagai pencinta alam. Kata mereka, ”Ada dua kriteria, yaitu penikmat alam dan pencinta alam. Anak kota yang hobi travelling dan backpacking kami kategorikan sebagai penikmat alam. Kami sendiri juga masih sangat berat menamakan diri kami sebagai pencinta alam. Emang apa yang sudah kalian buat untuk alam? Kalau cuma cakap-cakap aja, lebih bagus jadi penyiar radio!”
“Kalau pun ke alam buat camping, lalu meninggalkan sampah. Cukup tapak kaki saja yang ditinggal, jangan meninggalkan kerusakan dan sampah. Puntung rokok pun kalau bisa jangan sampai ditinggal,” himbau mereka. Soal gaya pencinta alam yang slengean diakui mereka bukan sebuah hal yang serius, ”Kami nggak memikirkan soal fashion. Di mana ada pakaian bersih ya dipakai. Pakaian wajib itu nggak ada yang gimana-gimana. Paling baju hitam, supaya nggak cepat kotor. Sesimpel dan senyaman mungkin aja,” tegas mereka.
GMPA-ITM
Sementara itu, ada juga sejumlah mahasiswa yang mengaku mencintai alam dengan membentuk Gerakan Mahasiswa Pencinta Alam-Institut Teknologi Medan (GMPA-ITM). Awalnya ini adalah atas prakarsa mahasiswa ITM jurusan pertambangan dan geologi pada tahun 1991. Anggota aktifnya saat ini sudah 53 orang, yang semuanya adalah mahasiswa kampus yang terletak di Jalan Gedung Arca.
Kegiatan pencinta alam ini pada dasarnya adalah kegiatan ekstra¬kurikuler atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Ditujukan agar mahasiswa ke kampus nggak hanya untuk kuliah, tetapi terjun pula ke dalam organisasi. Yah, tapi dasar yang namanya cinta, awalnya memang cuma UKM, tetapi kemudian digeluti hingga menjadi bagian dari hidup mereka. “Lagian kerjanya nggak muluk-muluk kok,” ujar Fahrizal Nasution, Ketua GMPA-ITM.
Sama seperti Sendaljepit, kedekatan mereka dengan alam menjadikan anak-anak GMPA-ITM selalu mengadakan kegiatan rutin sekali seminggu untuk terjun langsung ke alam dengan melakukan kegiatan keilmuan konservasi sekalian refreshing tentunya. Ya, alam adalah pengobat mereka. Kedekatan emosional tersebut menjadikan mereka merasa wajib menjaga alam.
GMPA-ITM mengakui bahwa nggak sedikit orangtua mahasiswa yang memiliki pandangan miring mengenai kegiatan ini, mulai dari kekhawatiran menganggu jam kuliah hingga soal risiko tinggi. “Pencinta alam nggak berisiko tinggi karena kami memiliki safety procedure. Kalau kecelakaan, mungkin udah garis nasibnya seperti itu. Cuma, kalau sesuai dengan prosedur yang ada, itu akan meminimalisir terjadinya kecelakaan. Misalnya, beban barang bawaan nggak boleh melebihi beban tubuh orang tersebut. Kalau digeluti dengan baik dan nggak tanggung-tanggung, kegiatan ini prospektif kok,” jelas Fahrizal bersemangat.
Dengan kebersamaan yang tinggi, GMPA-ITM pernah mewakili Indonesia pada tahun 2000 ke Minakami, Jepang di kegiatan arung jeram—yang didapatkan mereka setelah memenangkan Kejurnas Arung Jeram di Asahan. Baru-baru ini, GMPA-ITM juga mengadakan penghijauan di pesisir pantai Pulau Sambilan, Langkat dengan penanaman bakau. |
|
|
|
 |
|
 |
|
|
 |
|
 |
|
|